Perkuat Kesiapsiagaan Pesisir Selatan, TNI AL Sukses Gelar Simulasi Penanggulangan Bencana di Pacitan

Pacitanupdate.com, ​PACITAN – Pusat Teritorial Angkatan Laut (Pusteral) Mabesal bersinergi dengan jajaran unsur TNI-Polri, Pemerintah Kabupaten Pacitan, serta badan penanggulangan bencana menggelar Pelatihan Penanggulangan Bencana Alam Tahun Anggaran 2026. Kegiatan yang berpusat di kawasan Pancer Dorr, Kelurahan Sidoharjo, Kabupaten Pacitan ini memasuki hari kedua pada Rabu (3/6/2026).
​Sebanyak 200 personel gabungan dari Pusteral Mabesal, Kodim 0801/Pacitan, Lanal Pacitan, Polres Pacitan, Pemkab Pacitan, BPBD, Basarnas, dan relawan mensimulasikan skenario darurat gempa bumi bermagnitudo 8,2 yang memicu tsunami setinggi 22 meter di sepanjang pesisir selatan Pacitan. Latihan interdisipliner ini dirancang secara objektif untuk menguji kesiapan personel, efektivitas sistem peringatan dini (Early Warning System), serta menyempurnakan koordinasi lintas sektor terhadap potensi ancaman zona megathrust Samudra Indonesia.
​Kepala Satuan Bakti TNI AL Pusteral Mabesal, Kolonel Laut (PM) Dr. Muhammad Firdaus, A.Md., S.H., M.H., yang meninjau langsung jalannya latihan menyatakan bahwa kesiapsiagaan merupakan instrumen krusial dalam meminimalkan risiko dampak bencana di wilayah pesisir Jawa.

​"Latihan interdisipliner seperti ini bukan sekadar rutinitas, melainkan investasi keselamatan. Kami dari TNI AL berkomitmen memastikan seluruh elemen, baik aparat keamanan, pemerintah daerah, hingga kelompok masyarakat, memiliki kesamaan visi dan kecepatan bertindak saat menghadapi potensi bencana riil," ujar Kolonel Laut (PM) Muhammad Firdaus.
​Ia menambahkan, karakteristik geografis Pacitan yang berhadapan langsung dengan zona megathrust menuntut adanya kapasitas tanggap bencana yang tinggi dan insting penyelamatan yang kuat, baik dari sisi aparat maupun masyarakat penunjang.
​Simulasi yang dipimpin oleh Wakil Komandan Pusteral Mabesal, Kolonel Laut (P) Dr. Rully Riono, M.Tr.Opsla, selaku penanggung jawab kegiatan, dimulai tepat pukul 10.10 WIB. Skenario diawali dengan visualisasi aktivitas normal masyarakat sebelum terjadinya guncangan gempa masif.

​Pukul 10.15 WIB: Peringatan darurat diaktifkan melalui bunyi kentongan dan laporan situasi penanganan dampak gempa.

​Respons BMKG & Pusdalops: Informasi dari BMKG diteruskan ke Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD yang ditindaklanjuti dengan pengaktifan sirene EWS secara bertahap seiring adanya laporan surutnya air laut secara ekstrem di Pantai Tamperan dan Teleng Ria.

​Proses Evakuasi: Petugas gabungan mengarahkan warga menuju Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Jaten dan TEA Kanjeng Jimat.
​Pada puncak simulasi tsunami, Bupati Pacitan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) secara resmi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana. Struktur komando taktis langsung diaktifkan dengan menunjuk Komandan Lanal Pacitan, Mayor Laut (P) Aris Alfatah, sebagai Incident Commander (IC) atau Komandan Posko Tanggap Darurat.

​Sebagai IC, Mayor Laut (P) Aris Alfatah bertanggung jawab mengendalikan operasi lapangan secara terpadu, yang meliputi:

​Operasi pencarian dan penyelamatan (Search and Rescue/SAR) korban.

​Pengelolaan manajemen pengungsian dan distribusi logistik serta air bersih.

​Layanan kesehatan darurat dan penanganan korban pascabencana.
​Fase pascabencana turut menguji kecakapan teknis tim SAR dalam mengevakuasi korban tenggelam menggunakan perahu karet, tindakan resusitasi jantung paru (RJP), penyelamatan di ketinggian menggunakan crane, evakuasi korban tertimpa pohon, hingga penanganan korban meninggal dunia sesuai prosedur kemanusiaan.
​Wakil Komandan Pusteral Mabesal, Kolonel Laut (P) Dr. Rully Riono, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian pengujian ini ditujukan untuk mengukur kesiapan berkala serta mengevaluasi rantai komando agar berjalan efektif tanpa hambatan birokrasi saat situasi riil terjadi.

​"Ketangguhan menghadapi bencana tidak bisa dibangun oleh satu institusi saja, tetapi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen bangsa," tegas Rully.

​Seluruh rangkaian latihan penanggulangan bencana alam ini resmi ditutup pada pukul 11.50 WIB. Berdasarkan laporan evaluasi dari pihak penyelenggara, seluruh tahapan simulasi teknis berjalan dengan aman, tertib, dan lancar dengan tingkat partisipasi aktif yang tinggi dari seluruh unsur yang terlibat. Sinergi ini diharapkan dapat terus dipelihara guna memperkuat mitigasi struktural dan kultural di wilayah pesisir Kabupaten Pacitan. (KR)
Previous Post Next Post