Dapur SPPG Berdampingan dengan Pertamini di Pacitan, Publik Khawatirkan Potensi Bahaya

Pemandangan di Jalan Pacitan-Lorok, Desa Bungur, Tulakan, Pacitan, di mana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) beroperasi tepat berdampingan dengan unit Pertamini. Posisi dekatnya "dapur massal" yang memproduksi ribuan porsi makanan per hari dengan fasilitas penjualan BBM ini memicu kekhawatiran publik akan resiko keselamatan. (Foto: Dok. Istimewa)

𝐓𝐔𝐋𝐀𝐊𝐀𝐍 | 𝐏𝐚𝐜𝐢𝐭𝐚𝐧𝐮𝐩𝐝𝐚𝐭𝐞.𝐜𝐨𝐦 – Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi "dapur massal" untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jalan Pacitan-Lorok, Desa Bungur, Kecamatan Tulakan, Pacitan, kini menjadi sorotan tajam. Pasalnya, fasilitas vital yang memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari tersebut berdiri berdampingan dan tampak sangat kontras dengan sebuah unit penjualan bahan bakar minyak (BBM) eceran atau Pertamini.

​Kondisi tersebut memicu kekhawatiran dan tanda tanya besar di kalangan pengguna jalan serta masyarakat umum terkait aspek keselamatan dan potensi risiko kebakaran. Aktivitas dapur SPPG yang terus-menerus menggunakan sumber api besar untuk memasak, dinilai sangat rawan berdekatan dengan tempat penyimpanan dan pengisian BBM yang mudah terbakar.

​Salah seorang pengguna jalan, Ferry Irawan (38), mengekspresikan keheranannya. Ia menilai keamanan di lokasi tersebut seharusnya menjadi prioritas ekstra.

​“Yang bikin kepikiran itu masak dekat tempat BBM. Pas saya yang lewat situ ya mikir, apa tidak bahaya? Namanya orang lewat kan enggak tahu aturan teknisnya. Yang kelihatan ya dapur di sini, BBM di situ. Jadi wajar kalau muncul pertanyaan soal keamanannya,” cetus Ferry kepada wartawan, Selasa (18/08/2026).

​Ferry menekankan bahwa ini bukan dapur rumah tangga biasa, melainkan fasilitas produksi skala besar.

​“Ini kan dapur untuk MBG. Kalau yang dimasak sampai ribuan porsi, tentu aktivitasnya lebih banyak dibanding dapur rumah biasa. Makanya menurut saya keamanan harus ekstra. Kita harapkan juga keberadaan Pertamini di sekitar SPPG telah melalui kajian dan pemeriksaan dari pihak berwenang,” harapnya.


​Menanggapi kekhawatiran publik, Purnomo (47), selaku pemilik lahan sekaligus unit usaha Pertamini di lokasi tersebut, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa SPPG dikelola oleh Yayasan Sighrul Kolbun dari Banjarnegara yang menyewa lahan miliknya sejak Februari 2026. Menurutnya, lokasi tersebut sebelumnya adalah rumah makan yang dialihfungsikan dan telah melalui tahapan pendokumentasian pendaftaran SPPG, termasuk pemotretan dari satelit.

​"Dari pihak BGN (Badan Gizi Nasional) sendiri tidak ada aturan untuk berdampingan dengan Pertamini," klaim Purnomo.

​Meskipun mengakui adanya aktivitas penjualan BBM, Purnomo menjamin keamanan lokasi berdasarkan jarak dan spesifikasi teknis peralatan dapur.

​"Ini bensin eceran, tapi saya desain seperti SPBU. Kapasitasnya hanya 200 sampai 300 liter. Tangki bahan bakarnya juga tidak dipendam di tanah seperti SPBU, tapi di atas," tuturnya.

​Terkait potensi kebakaran, ia menambahkan, "Kalau sepengetahuan saya, jarak dengan kompor sekitar 45 meter. Jadi ini sudah aman." Purnomo juga menyebut bangunan SPPG memiliki lima lapisan sekat dan didesain tertutup untuk mengurangi risiko kontaminasi dan memenuhi standar operasional.


​Lebih jauh, Purnomo memastikan kompor yang digunakan dilengkapi sistem pengamanan otomatis. "Waktu sini buka itu mewajibkan kompor pakai sistem otomatis gas. Pada saat ada bau yang bisa membangkitkan percikan api, itu langsung otomatis mati sendiri. Bau dari gas bocor saja, ketika dites pakai korek api, itu tidak hidup, langsung mati semua kompornya," paparnya.

​Dapur SPPG ini diketahui memproduksi sekitar 2.200 porsi makanan setiap hari, melibatkan 47 relawan lokal, dan melayani penerima manfaat, termasuk kelompok B3 di tiga desa, yaitu Desa Padi, Tulakan, dan Bungur. (Red)

Lebih baru Lebih lama