Klarifikasi Isu Sanksi Pikul Pagar, Kepala MTs Muhammadiyah 08 Pacitan: Itu Inisiatif Siswa

 Siswa dan guru MTs Muhammadiyah 08 Desa Kasihan, Tegalombo, Pacitan, mengikuti kegiatan upacara di halaman sekolah. Pihak sekolah membantah isu adanya sanksi fisik memikul pagar dan menegaskan sistem pembinaan siswa selalu mengedepankan nilai edukatif. (Foto: Dok. MTs Muhammadiyah 08 Kasihan)

PACITAN | Pacitanupdate.com — Pihak MTs Muhammadiyah 08 Desa Kasihan, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, membantah keras tuduhan yang menyebutkan oknum guru memberikan sanksi fisik berupa perintah memikul pagar sekolah ke bengkel las kepada tiga orang siswanya.

​Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh Kepala MTs Muhammadiyah 08 Kasihan, Sri Haryati, M.Pd.I., guna menanggapi maraknya pemberitaan media sosial dan rekaman video yang menyudutkan pihak sekolah.


​Sri Haryati menjelaskan, aksi ketiga siswa yang membawa gerbang sekolah menuju tukang las tersebut murni atas inisiatif mereka sendiri. Hal itu dilakukan setelah mereka diduga tidak sengaja menabrak gerbang sekolah hingga rusak, tanpa adanya instruksi maupun perintah dari pihak sekolah.

​"Setelah keluar dari kantor, saya kaget melihat gerbang sudah tidak ada di tempatnya. Ternyata gerbang itu dibawa oleh ketiga anak yang menabraknya ke tukang las. Pihak sekolah sama sekali tidak pernah menyuruh mereka membawa pagar ke bengkel, apalagi dengan cara dipikul," tegas Sri Haryati saat dikonfirmasi, Senin (10/8/2026).

​Ia menegaskan, sekolah memiliki mekanisme pembinaan kesiswaan tersendiri yang mengedepankan nilai-nilai edukatif serta keagamaan dalam menangani pelanggaran siswa, bukan melalui tindakan fisik.

​"Jika terdapat siswa yang melanggar, bentuk pembinaannya bersifat edukatif. Biasanya mereka diminta menulis ayat-ayat suci Al-Qur'an, seperti Ayat Kursi dan surat-surat pendek lainnya," lanjutnya.


​Munculnya narasi sanksi fisik di media sosial diakui sangat mengejutkan jajaran pendidik di MTs Muhammadiyah 08 Kasihan. Pihak sekolah menyayangkan terbentuknya opini publik seolah-olah jajaran guru secara sengaja membiarkan atau memerintahkan siswa memikul beban berat tersebut.

​Pihak sekolah berharap masyarakat dapat mencerna setiap informasi secara bijak, objektif, dan melihat persoalan secara utuh, sehingga tidak terburu-buru mengambil kesimpulan negatif terhadap lembaga pendidikan. (Kris)

Lebih baru Lebih lama