Pacitanupdate.com, PACITAN — Ratusan personel gabungan dari berbagai unsur kedaruratan menggelar simulasi penanggulangan bencana alam tsunami di kawasan parkir Pancer Door, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Rabu (3/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Pelatihan Penanggulangan Bencana Alam (Latgulben) Tahun Anggaran 2026 yang diinisiasi oleh Wilayah Kerja (Wilker) Lanal Pacitan.
Upacara pembukaan Pelatihan yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga Jumat (5/6/2026) ini dipimpin langsung oleh Wadanpusteral Kolonel Laut (P) Dr. Rully Riono, M.Tr.Opsla. Pembukaan ditandai dengan penyematan tanda peserta oleh inspektur upacara dan dihadiri langsung oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Uji Koordinasi Lintas Sektor di Zona Kerawanan Tinggi
Kolonel Laut (P) Dr. Rully Riono menjelaskan bahwa pemilihan Pacitan sebagai lokasi latihan didasarkan pada kondisi geografis wilayah pesisirnya yang berhadapan langsung dengan zona megathrust Samudra Indonesia. Karakteristik ini membuat Pacitan memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami.
"Tujuan utama latihan ini adalah membangun kesiapsiagaan operasional yang menyeluruh. Kami ingin memastikan koordinasi antarinstansi dapat berjalan cepat, tepat, dan tanpa hambatan saat situasi darurat terjadi," ujar Kolonel Rully usai memimpin upacara pembukaan.
Dalam simulasi tersebut, seluruh elemen menguji kemampuan teknis mulai dari aktivasi sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS), tata cara evakuasi mandiri, pengelolaan posko pengungsian, layanan kesehatan darurat, hingga pengoperasian dapur umum.
Selain melibatkan personel dari TNI AL, Kodim, Polres Pacitan, BPBD, Basarnas, dan forum relawan kebencanaan, latihan ini juga melibatkan masyarakat pesisir secara langsung. Ketika sirene EWS dibunyikan, warga diarahkan untuk melakukan evakuasi menuju titik kumpul aman sesuai prosedur mitigasi yang berlaku.
"Kami tidak hanya melatih aparat, tetapi juga masyarakat. Tujuannya agar warga memahami apa yang harus dilakukan ketika menerima informasi adanya ancaman tsunami. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena mereka merupakan kelompok yang paling rentan terdampak," tambah Wadanpusteral.
Pihak TNI AL menegaskan bahwa Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi karena posisi geografisnya. Oleh karena itu, Latgulben ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap program pemerintah dalam mereduksi risiko bencana di tingkat hilir.
“Kami berharap sinergi yang telah terjalin antara TNI, pemerintah daerah, instansi terkait, relawan, dan masyarakat dapat terus ditingkatkan demi terwujudnya sistem penanggulangan bencana yang lebih efektif dan terpadu,” tuturnya.
Selain fokus pada taktis kebencanaan, rangkaian Latgulben TA 2026 ini juga diisi dengan kegiatan bakti sosial berupa penyerahan paket sembako secara simbolis kepada masyarakat di sekitar kawasan Pancer Door. Langkah ini diambil sebagai bentuk pendekatan humanis sekaligus intervensi kesejahteraan bagi warga setempat.
Menutup keterangannya, Kolonel Rully mengimbau masyarakat agar tidak panik secara berlebihan dalam menghadapi potensi bencana, melainkan meresponsnya dengan peningkatan kapasitas dan kewaspadaan mandiri.
"Ketangguhan bencana dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Kenali jalur evakuasi, patuhi informasi resmi, dan selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk," tegasnya.
Melalui latihan terpadu ini, seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Pacitan diharapkan mampu memperkuat respons cepat, mematangkan manajemen kedaruratan, serta membangun budaya sadar bencana guna meminimalisasi potensi korban jiwa maupun materiil di masa mendatang. (KR)
Tags:
Daerah